efektifitas vs efisiensi

Efektif dan Efisien adalah Kata yg seringkali kita dengar, tetapi ternyata masih banyak yg bingung perbedaannya bahkan mungkin banyak orang yang salah kaprah dalam penerapan istilah efektif dan efesien, termasuk saya sendiri bingung celingukan di depan dosen pembimbing skripsi sewaktu sang dosen bertanya “Apa itu efektif” terdengar sepele memang, Akhirnya sang dosen menyuruh saya untuk melihat di kamus Bahasa Indonesia, berhubung saya tidak punya kamus Bahasa Indonesia. Sayapun mencari-cari di Google, dan akhirnya menemukan sebuah artikel yang menguraikan tentang Efektiftas dan Efisiensi yg bedasarkan kamus Bahasa Indonesia.

Efektivitas (berjenis kata benda) berasal dari kata dasar efektif (kata sifat).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga tahun 2003, halaman 284 yang disusun oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional,

Efektif adalah 1 ‘ada efeknya’ (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2 ‘manjur atau mujarab’ (tt obat); 3 ‘dapat membawa hasil; berhasil guna’ (tt usaha, tindakan); ‘mangkus’; 4 ‘mulai berlaku’ (tt undang-undang, peraturan). Sementara itu, efektivitas memiliki pengertian ‘keefektifan’. Keefektifan adalah 1 ‘keadaan berpengaruh’; ‘hal berkesan’; 2 ‘kemanjuran’; ‘kemujaraban’ (tt obat); 3 ‘keberhasilan’ (tt usaha, tindakan); ‘kemangkusan’; 4 ‘hal mulai berlakunya’ (tentang undang-undang, peraturan. Sementara itu, efisiensi (berjenis kata benda) berasal dari kata efisien (kata sifat). 

Efisien adalah 1 ‘tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dng tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya)’; 2 ‘mampu menjalankan tugas dgn tepat dan cermat’; ‘berdaya guna’; ‘bertepat guna’; ‘sangkil’. Selanjutnya, efisiensi adalah 1 ‘ketepatan cara (usaha, kerja) dl menjalankan sesuatu (dng tidak membuang waktu, tenaga, biaya)’; ‘kedayagunaan’; ‘ketepatgunaan’; ‘kesangkilan’; 2 ‘kemampuan menjalankan tugas dng baik dan tepat (dng tidak membuang waktu, tenaga, biaya)’. Berdasarkan pengertian-pengertian tadi dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah ‘semua usaha dan tindakan yang dapat membawa hasil’, sedangkan efisiensi adalah ‘ketepatan cara dan kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya’

kutipan : http://info-utama.blogspot.com/2009/03/perbedaan-efektifitas-dan-efisiensi.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sang begawan

tari bedoyo ketawang tarian murni melambangkan cinta asmara Kangjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung
Sembilan penari perempuan, berbusana dodot ageng dengan batik corak banguntulak alas-alasan menarikan tarian kraton, Bedhoyo Ketawang selama 2,5 jam.
Iringan gending Kethawang Gedhe membuat suasana di Pendopo Ageng Sasanasewaka nampak makin sakral dan religius. Konon, gending ini menjadi lebih terasa religius dan sakral ketika Sunan Kalijogo ikut dalam proses pembuatannya.
Tari ini biasanya dipagelarkan hanya acara Tinggalan dalem Jumenengan atau pada acara hari jadi penobatan raja dan hanya boleh dilihat oleh para pejabat dan kerabat keraton. Di jaman sekarang, tarian Bedhoyo dipagelarkan dan dapat dilihat secara bebas oleh khalayak pada tiap bulan Sya’ban.
Namun bukan itu yang menjadi fokus tulisanku hari ini.

Dari beberapa buku yang ku baca, dan juga pembicaraan jarak jauh dengan salah satu mantan penari kraton dengan spesialisasi Bedhoyo Ketawang yang bernama Raden Ayu Sri Sulastri banyak hal yang dapat digali. Bahkan, aku tertarik pada ritual yang dilakukan para perempuan itu sebelum menarikan Tarian Langit ini, karena ternyata banyak mengupas sisi sensualitas dari kaum perempuan.

Sebelum menarikan tarian ini, sembilan penari Bedhoyo Ketawang haruslah melakukan ritual puasa, menyucikan diri lahir dan bathin tidak dalam keadaan ‘berhalangan bulanan’ ketika menarikan [hal ini membuat adanya penari cadangan yang dipersiapkan untuk saat-saat tak terduga]. Namun lebih dari itu, hal yang paling menarik bagiku adalah sembilan penari ini haruslah menari dalam keadaan masih perawan.

Terkait dengan masalah keperawanan ini, karena sering kejadian sang raja merasa ‘kesengsem’ pada salah satu penari dan menginginkan
untuk menemani sang penguasa melewati malam.

Eyang Sulastri dalam dialognya denganku mengatakan salah satu sisi sensual yang keluar dari para penari Bedhoyo selain dilihat dari gerak tubuh juga dapat dipandang dari busana dodotan, yang dikenakan.

Kain batik yang dikenakan hanya menutupi bagian dada hingga kaki. Sedangkan para pandemen tari ini dengan bebasnya dapat melihat berkilaunya bagian bahu para penari yang dibaluri dengan lulur temanten yang biasanya berwarna kuning gading.
Selain itu, para penonton juga dapat melihat bagian betis para penari yang kadang kala terlihat dari batik yang tersingkap ketika melakukan gerakan memutar sembari memindahkan kain bagian bawah, dengan kaki.

Berdasarkan ilmu katuranggan Jawa, Eyang Sulastri , menyatakan sang raja akan memilih penari yang mempunyai bagian betis kaki yang melengkung kedalam, dan juga bagian ‘kemiri’ -letaknya di kanan kiri telapak kaki- yang terlihat menonjol. Dari ilmu itu, dikatakan bahwa perempuan yang mempunyai bentuk seperti itu, maka -biasanya- ‘memuaskan’ ketika bersetubuh.

[Jelas dalam pandangan kaum moderat, masalah katuranggan yang tercantum dalam primbon-primbon merupakan satu hal kuno yang tak dapat disandingkan dengan alam logika.

Arti kata sensulitas di era modern ini juga lebih mengedepankan sosok perempuan yang bertubuh super langsing, berpakaian minim nan terbuka, menggunakan pemerah bibir yang super merah, dan berambut bucheri alias ‘bule cat sendiri’.

Berbeda dengan sensalitas yang diusung oleh kaum Jawa tempoe doeloe. Priyayi Jawa jaman baheula menganggap sensualitas perempuan Jawa dipandang dari tubuh berpinggang ‘nawon kemit’ ketika memakai kain dan kebaya menerawang, berdada padat dan berpantat besar, yang diyakini perempuan yang subur dan gampang melahirkan.

Sensualitas tiap jaman memang berubah-ubah, tergantung dari penilaian dan juga pandangan orang yang melihatnya. Semua serba relatif dan tergantung penilaian dan ego para pria yang mempunyai hak memilih. Sesuai perkataan Jawa, -pria berhak memilih, perempuan berhak menolak-. Kaum feminis yang mengusung doktrin kesetaraan pasti akan kembali mati-matian melawannya. So,gimana jika hal itu dibalik saja?

Kembali ke masalah Bedhoyo Ketawang, jika dikatakan sensualitas para penari Bedhoyo nampak jelas terlihat, hal itu bukanlah hal yang aneh. Dilihat dari sisi filosofis Bedhoyo Ketawang sendiri, melambangkan curahan cinta asmara Kanjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung.

Hal ini terlukiskan dalam setiap gerak tangan, gerakan tubuh, dan juga
cara memegang sondher. Semua gerak merayu dan mencumbu
dalam Bedhoyo itu dirangkum sedemikian halusnya, hingga seringkali mata awam sangat sukar memahaminya. [Jelas, dengan 2,5 jam pagelaran dan melihat tari yang sangat lamban, bagi yang tak berkepentingan tak lebih hanya menciptakan kejenuhan].

Ada satu hal yang mungkin mudah dipahami oleh orang awam bahwa tarian ini adalah tarian lambang percintaan antara Ratu Kidul dengan Sultan Agung adalah, sembilan penari ini memakai busana dodot ageng dan paes ageng yang lazim digunakan oleh pasangan pengantin.

Dari Eyang Sulastri aku tahu bahwa dari beberapa cerita diketahui bahwa Sinuhun Paku Buwana X pernah menceritakan bahwa tarian ini murni melambangkan cinta asmara Kangjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung. Memang upaya tersebut selalu dapat dielakkan oleh Sultan Agung, bahkan Ratu Kidul meminta agar Sinuhun ikut menetap di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana, [Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Ramawijaya di dasar lautan].

Namun demikian, Sultan Agung tidak menuruti kehendak Ratu Kidul karena masih ingin mencapai Sangkan Paran. Selanjutnya, begitu Sultan Agung bersedia memperistri Ratu Kidul, maka konsewensi secara turun temurun, setiap keturunannya yang bertahta di pulau Jawa akan terikat janji dengan Kangjeng Ratu Kidul pada hari peresmian kenaikan tahtanya.

Berdasarkan kitab Wedhapradangga, tarian Bedhoyo Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung, dan Kangjeng Ratu Kidul sendirilah yang diminta hadir ke daratan untuk mengajarkan secara langsung tarian Bedhaya Ketawang pada para penari kesayangan Sinuhun.

Hal ini memang terlaksana, pelajaran tari ini dilakukan setiap hari Anggorokasih atau hari Selasa Kliwon. Sampai hari inipun, para penari kraton yang bertugas menarikan Bedhoyo Ketawang masih melakukan latihan pada hari yang ditentukan ini.
Mengingat bahwa tari ini dipandang sebagai satu tarian ciptaan Ratunya seluruh mahluk halus, seringkali dipercaya bahwa sang penciptanya hadir setiap kali Bedhoyo Kethawang ditarikan.

“Memang tidak semua mata wadag dari orang-orang yang menyaksikan dapat melihatnya. Hanya orang yang peka indrawinya yang dapat melihat kehadiran dari Kanjeng Ratu yang membetulkan kesalahan yang dibuat oleh sang penari. Terkadang hanya para penari Bedhoyo itu yang dapat merasakan kehadiran Sang Penguasa laut kidul itu,” kata eyang Sulastri.

‘Wah, eyang sebagai salah satu penari Bedhoyo pernah merasakan kehadiran Sang Ratu donk,’ tanyaku pada beliau.
‘Ora perlu diudhar tho Sava, cah ayu? he he he he…..,” singkat jawaban beliau atas pertanyaanku melalui telpon beberapa waktu lalu.

Sabtu, 11 September 2004
“Jumenengan” Hangabehi sebagai PB XIII Berlangsung Lancar

Solo, Kompas – Putra tertua mendiang PB XII, KGPH Hangabehi, Jumat (10/9) mengangkat dirinya sebagai Susuhunan Paku Buwono XIII dalam suatu upacara megah bertempat di Sitihinggil Keraton Surakarta. Pengangkatan “raja” itu didahului penobatannya sebagai putra mahkota bertempat di Dalem Prabasuyasa keraton. Seluruh upacara berjalan lancar, dan ditutup dengan persembahan tari sakral Bedhaya Ketawang, dilanjutkan dengan kirab keliling kota pada sore harinya.

Upacara jumenengan di Sitihinggil dihadiri ratusan undangan. Di antara para tamu undangan tampak perwakilan dari beberapa kedutaan besar asing seperti Pakistan dan Banglades.

Dari kalangan pejabat tampak Wali Kota Solo Slamet Suryanto, Bupati Wonogiri Begug Purnomosidhi, anggota MPR AM Fatwa, Guruh Soekarnoputra, Sultan Emiruddin dari Kanoman Cirebon, dan Sultan Badaruddin dari Palembang.

Prosesi jumenengan diawali pukul 08.30 di Dalem Prabasuyasa. Pada pukul 10.00, setelah berdoa dan bersumpah kepada leluhur, Hangabehi mengukuhkan dirinya sebagai putra mahkota dengan gelar Kanjeng Pangeran Ario Adipati Anom Amangkunagara Sudibya Raja Putra Narendra Mataram. Pengukuhan itu disaksikan oleh saudara-saudaranya, terutama dari RAy Pradapaningrum, serta KGPH Haryomataram (79), sesepuh keraton.

Di depan hadirin di Sitihinggil, Hangabehi memaklumatkan dirinya sebagai Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Ingkang Kaping XIII. Sesaat kemudian, Haryomataram menyematkan bintang kebesaran Suryo Wasesa di dada PB XIII.

Prosesi jumenengan diselingi dengan sembahyang Jumat. Kemudian dilanjutkan di pendapa Sasana Sewaka keraton untuk menyaksikan tari Bedhaya Ketawang yang berlangsung selama 90 menit.

Dipertanyakan

“Saya sesungguhnya mempertanyakan langkah Tedjo (KGPAA Tedjowoelan–Red) mengangkat dirinya sendiri. Atas landasan apa dia berbuat demikian?” ujar Haryomataram kepada wartawan.

Haryomataram berharap, akan ada langkah damai di antara kedua belah pihak. Ia tidak menutup kemungkinan pihak pemerintah dilibatkan.

KGPAA Tedjowoelan yang diangkat tiga Pengageng Keraton Surakarta, saat dihubungi di Yogyakarta menyatakan, sepakat dengan ide Haryomataram untuk melakukan pembicaraan dengan kubu Hangabehi. “Namun, selama ini mereka yang selalu menolak duduk satu meja dengan kami,” ujar Tedjowulan.

Petunjuk, Ganesa, dan Ratu Selatan

Berbeda dari istana Yogyakarta yang sudah lama meninggalkan tari upacara magis sebagai aktualisasi “perkawinan” raja Jawa dengan Ratu Selatan (yang di Keraton Yogya dinamakan tari Bedhaya Semang), Keraton Kasunanan Surakarta hingga kini setiap tahun masih mempergelarkan tari upacara yang berfungsi sama, yang bernama Bedhaya Ketawang. Perbedaan penyikapan terhadap warisan budaya di antara kedua keraton utama Jawa itu menunjukkan bahwa yang satu lebih memberi tekanan pada aspek budaya yang magis-ritual, sedangkan yang lain lebih mementingkan nilai astetik dan upaya pemasyarakatan.
kutipan dari :http://danangwiryadi.blogspot.com/2010/06/tari-bedoyo-ketawang-tarian-murni.html

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Theologicophobia

Deskripsi
Theologicophobia adalah ketakutan seseorang terhadap agama tanpa alasan yang jelas dan logis. Phobia ini disebabkan oleh pengalaman negatif yang kuat dari masa lalu seseorang.

Gejala
Gejala penderita phobia ini dapat diketahui jika pikiran tentang teologi membuat penderita mual, muntah, mulut kering atau keluar keringat� dingin.

Pengobatan
Tidak ada obat khusus untuk penderita phobia ini. Perawatan yang dapat dilakukan adalah dengan terapi, yakni mengubah persepsi penderita baha takut agama bukan hal yang menakutkan

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

sisingaan di jawa barat

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyJawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah ading affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.

Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saa ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan sekarang tangggal 2 Mei 2010 akan diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sisingaan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sikap Masyarakat Terhadap Perubahan Sosial Budaya

Sikap Masyarakat Terhadap Perubahan Sosial Budaya
Di bawah ini diuraikan beberapa contoh sikap masyarakat karena adanya perubahan sosial budaya adalah sebagai berikut.

1. Aksi protes adalah pergolakan massa yang bersifat umum sebagai perwujudan rasa tidak puas terhadap keputusan-keputusan dan kejadian di masyarakat.

2. Demonstrasi adalah gerakan massa yang bersifat langsung dan terbuka serta dengan lisan ataupun tulisan dalam memperjuangkan kepentingan yang disebabkan oleh adanya penyimpangan sistem, perubahan yang inskontitusional dan tidak efektifnya sistem yang berlaku.

3. Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan antisosial yang dilakukan oleh anak remaja. Kenakalan remaja muncul dari keluarga yang tidak harmonis karena kurangnya pengawasan dalam keluarga. Bentuk-bentuk kenakalan remaja adalah membolos sekolah, berkelahi, minum-minuman keras, dan mengebut di jalan raya.

4. Kriminalitas adalah pelanggaran norma hukum yang dilakukan seseorang dan dapat diancam sanksi pidana. Kriminalitas disebabkan oleh pertentangan kebudayaan, perbedaan ideologi politik, perbedaan pendapat dari mental yang tidak stabil.

5. Pergolakan daerah adalah gerakan sosial vertikal dan horizontal yang dilakukan secara serentak dengan banyak cara untuk memaksakan kehendak. Perubahan sosial dan budaya membawa dampak positif dan negatif terhadap kehidupan. Kita harus waspada terhadap hal-hal yang menimbulkan perubahan yang mengarah ke hal negatif.

Kita harus mempunyai sikap tegas menolak terhadap perubahan yang membawa ke arah negatif. Kita dapat mengambil pengaruh positifnya dengan tetap berpedoman pada nilai dan norma masyarakat.

kutipan : http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/12/sikap-masyarakat-terhadap-perubahan.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ilmu budaya dasar

Ilmu Pengetahuan dan Perkembangannya
Ilmu pengetahuan tercipta karena adanya kebutuhan manusia untuk menguasai alam semesta dalam rangka mempertahankan kehidupannya.
Sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan sangat pesatnya.

Ilmu pengetahuan tidak selalu membuat manusia menjadi lebih beradab dan mencapai kesempurnaan hidup, tetapi ilmu pengetahuan juga dapat menjadi bencana bagi manusia dan lingkungannya jika dikelola oleh manusia yang tidak memiliki moral kemanusiaan.

Meskipun secara umum ilmu pengetahuan lebih banyak manfaatnya bagi kehidupanmanusia, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri bukannya tanpa kritik.

Kalangan postmodernisme mengkritik ilmu pengetahuan modern yang dianggap mereka telah gagal membentuk kepribadian manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan modern pada sisi lain telah membuat pribadi manusia terpecah-belah oleh kepentingankepentingan bisnis, sehingga manusia tidak lagi memiliki jiwa yang independen.

ILMU PENGETAHUAN DAN KITA
Ilmu pengetahuan berkembang karena ada kebutuhan manusia untuk dapat mempertahankan diri. Untuk dapat bertahan, manusia harus dapat menguasai alam semesta. Penguasaan terhadap alam semesta itu dilakukan dengan tidak merusak tatanan alam itu sendiri. Kerusakan terhadap tatanan alam akan berdampak pada kehidupan umat manusia. Agar penguasaan alam semesta tidak bertampak pada perusakan, maka penguasaan terhadap ilmu pengetahuan perlu dibaringi dengan norma dan etika.

Ilmuwan harus mempunyai norma dan etika. Tanpa norma dan etika, ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi keserakahan orang-orang tertentu yang lebih kuat Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia dengan tetap mempertimbangan harmoni antara kehidupan umat manusia dan alam sekitarnya.

sumber : http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/05/ilmu-budaya-dasar.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Definisi Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

[sunting] Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian

mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. W

sumber; Wikipedia

Posted in Uncategorized | Leave a comment